Pengumpan:
Tulisan
Komentar

“PEREKAT UMMAT”

“PEREKAT UMMAT”

Menjadi “Perekat Ummat” adalah satu doktrin penting yang selalu diajarkan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor kepada santrinya.

“Perekat” berasal dari kata “rekat”, kata kerjanya “merekat”, kata ini memiliki derevat “lekat” dengan kata kerja “melekat” yang bermakna “menempel”. (KBBI, 2001, hal. 942), kata awalan “Pe” dalam “Perekat” menunjukkan pelaku. Sehingga makna yang terkandung dalam semboyan “jadilah Perekat Ummat”, adalah harapan dan cita-cita agar setelah para santri menyelesaikan pendidikannya di Pondok Modern Darussalam Gontor dan kembali ke masyarakatnya mereka mengambil peran aktif dalam proses terbangunnya ukhuwah Islamiyah (perekatan ummat) yang dalam realitanya telah dicabik-cabik oleh “egoisme” dan “fanatisme”, seperti yang digambarkan dalam Al-Quran, sbb:

Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). ((Surat al-Mukminun ayat 53))

Untuk menunjang tercapainya maksud ini, pondok men-design kegiatan dan pelajaran agar seirama dengan tujuan tersebut. Diantara kebijakan yang ditetapkan digontor adalah tidak diperkenankan bagi santri yang berasal dari satu daerah untuk berkumpul kumpul, penghuni satu kamar harus berasal dari berbagai daerah di tanah air, praktek-praktek ibadah yang diterapkan di pondok terasa beragam misalnya azan jumat memakai dua kali azan, masih ada beduk, ada dzikir jama’i setiap setelah salat, tapi salat teraweh hanya delapan rekaat, praktek kunut dalam salat subuh bisa beragam, terkadang kunut dan terkadang tidak tergantung imamnya, buku  fikih yang diajarkan juga bukan satu madzhab saja, karena setelah diajarkan fikih dalam madzhab Syafi’i di kelas satu, dua dan tiga, buku fikih yang diajarkan adalah “Bulughu-l-maram”, karya Ibnu Hajar al-Asqalani,  lalu ditutup dengan pengajaran fikih muqaran (perbandingan) melalui karya menumental Ibnu Rusyd “Bidayatu-l-mujtahid wanihayatu-l-muqtashid”, dan sebelum tamat, kelas enam dibekali secara khusus materi tentang fikih khilaf.

Dengan kebijakan seperti ini diharapkan wawasan para santri akan menjadi terbuka, terbiasa dengan perbedaan, terbiasa bekerjasama dan saling mentolerir keberagaman. Lebih penting dari itu, diharapkan mereka mampu berperan aktif dalam menyelesaikan problem perselisihan dan pertikaian yang terjadi di tengah-tengah ummat.

Memang, hasil dari pendidikan ini dapat terasa dengan jelas saat di Pondok, terbukti hampir tidak kita dapati kasus perkelahian, atau pertengkaran, atau perselisihan antar santri yang dipicu oleh perbedaan etnik atau madzhab atau ormas.

Namun apa yang terjadi di pondok tidak bisa dijadikan satu-satunya tolak ukur dalam menilai keberhasilan atau kegagalan pendidikan pondok, karena sebagaimana kita ketahui bahwa nuansa dan suasana di pondok semuanya diatur dalam kerangka “design pendidikan” dan “pembelajaran“, Sehingga dengan demikian tolak ukur yang sesungguhnya dan yang paling akurat untuk menilai sejauh mana seorang santri telah berhasil menyerap dengan baik nilai-nilai pondok adalah sejauh mana ia dapat mengenjawantahkan nilai-nilai tersebut saat terjun di masyarakatnya.

Kata kunci dari peran sebagai “Perekat Ummat” adalah upaya mewujudkan “ukhuwah Islamiyah” ditengah-tengah masyarakat, melewati tangga-tangga: “Ta’aruf” (saling mengenal), yang kemudian menimbulkan “Tafahum” (saling memahami), dan “Tawashaw”, (saling menasehati) dalam kebajikan dan kesabaran, lalu menimbulkan “Ta’awun” (saling membantu-gotong royong) dalam kebaikan dan kebajikan, disusul terciptanya “Takaful, (saling menopang), lalu “Tanashur” (saling membantu, menolong, memenangkan), akhir dari proses ini diharapkan tercipta “Talahum” (masyarakat bisa melebur seakan menjadi satu daging dalam satu jasad atau satu bangunan yang menguatkan satu sama lain),  sehingga tersebarlah paling tidak sifat “Salamatusshadr” (lapang dada), dan “al-itsar” (mendahulukan kepentingan saudaranya yang lain dari pada kepentingan dirinya sendiri), lebih jauh ia bisa melakukan peran penting yaitu “ishlahu dzatil bayyin” (Reconsiliation’s Maker).

Peran sebagai perekat ummat seperti dijelaskan diatas bisa dilakukan dalam kondisi apapun, baik ketika seorang alumni Gontor berafiliasi ke sebuah organisasi, kelompok, partai, klub, maupun paguyuban dan yang sejenisnya, maupun ketika tidak berafiliasi ke organisasi atau kelompok manapun, baik saat ia menjabat sebagai pengurus ataupun hanya sekedar menjadi anggota, baik ketika menjadi pejabat maupun hanya menjadi rakyat biasa, dengan demikian untuk menjadi “Perekat Ummat” tidak mesti harus berada di luar organisasi manapun agar terkesan netral sebagaimana difahami -secara kurang tepat- oleh sebagian alumni. Jadi untuk menjadi netral bisa bertolak dari “afiliasi” maupun “tanpa afiliasi”. Model pertama –oleh Pak Din Syamsuddin- disebut dengan “netral negatif”, sementara model kedua bisa disebut dengan “netral positif”.

Nah jika alumni gontor (anggota IKPM) sebagai indifidu bisa berafiliasi dan bisa juga tidak berafiliasi, namun demikian Gontor dan seluruh struktur yang ada di bawahnya –sebagai lembaga- tidak diperkenankan  berafiliasi kepada organisasi apapun demikian pula partai, club, paguyuban, kelompok dan seterusnya, agar tetap menjaga posisinya sebagai lembaga yang berada “Diatas dan Untuk Semua Golongan”. Dari sini Gontor –termasuk didalamnya IKPM- sebagai lembaga tidak diperbolehkan untuk menyatakan dukungan secara jelas terhadap salah satu organisasi, partai, kelompok dan sejenisnya, walaupun partai atau organisasi tersebut dipimpin oleh salah seorang warga IKPM, atau mayoritas anggotanya berasal dari IKPM, disebabkan oleh beberapa hal berikut:

Pertama: IKPM –sebagai lembaga- harus tetap berada diatas dan milik ummat bukan milik salah satu kelompok tertentu.

Kedua: Sangat dimungkinkan adanya anggota IKPM (yang lain) pada partai atau organisasi kompetitor yang didukungnya itu. Dalam kondisi seperti akan muncul pertanyaan tentang siapa yang paling berhak memakai dan menggunakan IKPM, karena pada hakekatnya  seluruh anggota/warga IKPM memiliki hak yang sama terhadap IKPM. Jika hal ini terjadi, maka IKPM berubah menjadi milik sebagaian anggota IKPM saja, dan tidak lagi menjadi milik seluruh warga IKPM.

Ketiga: Menhindarkan Gontor dan IKPM dari getah perang kepentingan pragmatisme, dimana masing-masing kubu biasanya berupaya mendompleng nama besar Gontor atau IKPM sebagai kendaraan untuk mencapai maksud-maksud tersebut.

Karena sebab terakhir inilah dulu kontor pusat IKPM dipindahkan kembali dari Yogjakarta ke pondok, karena saking seringnya IKPM direset-seret oleh kubu-kubu yang didalamnya terdapat alumni gontor atau anggota IKPM untuk digunakan sebagai kendaraan guna merealisasikan tujuan pragmatisme mereka. Peristiwa ini kemudian memunculkan syiar yang berbunyi: “IKPM untuk Pondok, bukan Pondok untuk IKPM”.

Untuk itulah belum pernah kita dapatkan Gontor, atau IKPM –sebagai lembaga- mengeluarkan dukungan terhadap calon ketua dari ormas tertentu, atau caleg dari partai tertentu, atau mengeluarkan surat pernyataan sikap secara resmi terhadap hasil dari pemilihan tertentu, karena semua itu termasuk “Politik Praktis” yang harus dihindarkan oleh Gontor atau IKPM sebagai lembaga resmi. Dengan demikian dalam hal “politik praktis” Gontor dan IKPM harus mengambil sikap “Netral Negatif”.

Sementara anggota IKPM, sebagai indifidu, setelah keluar dari pondok memiliki kebebasan penuh untuk berafiliasi ke organisasi atau partai manapun, serta bebas melakukan aktifitas politik praktis, dalam koridor syariah dan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh Pondok, seraya terus berusaha menebarkan semangat persatuan dan kesatuan ummat dimana dan kapanpun mereka berada, yang Jika terjadi perselisihan antar beberapa kelompok, dimana terdapat salah seorang atau lebih warga IKPM pada setiap kelompok tersebut, maka masing-masing warga IKPM yang tersebar di semua kelompok atau lembaga tersebut diharapkan bisa berperan sebagai jembatan bagi terjadinya proses rekonsiliasi antar organisasi yang sedang berselisih tersebut, bukan malah sebaliknya, turut larut dalam perselisihan itu, apalagi menjadi bahan bakar vital bagi perselihan dan pertikaian tersebut. Inilah yang dimaksud dengan sikap “Netral Positif”.

Dengan demikian semua alumni Gontor diharapkan memiliki peran yang signifikan dalam menyatukan dan mensinergikan kekuatan ummat, meskipun mereka menyebar di berbagai organisasi atau partai, tapi semuanya itu tidak keluar dari satu kata yang telah mendalam dalam lubuk dan sanubari seluruh alumni yaitu “Demi menggapai kejayaan Islam wal Muslimin”. Wallahu A’la wa A’lam.

BLUE PRINT GERAKAN MASISIR

Membaca Arah Gerakan Masisir Menjelang Dan Pasca Pemiluwa 2009

Pemiluwa masisir 2009 kali ini kembali panas, kerena kelihatannya, satu tahun pengalaman pahit yang dirasakan oleh para simpatisan PKS di bawah pemerintahan Saudara Yazid dan Heri -yang dinilai oleh mereka sangat diskriminatif itu-, membuat mereka berusaha keras untuk turut mendukung mati-matian pasangan capres-cawapres (M. Taufik-M. Syadid). Sementara itu sadar akan kekuatan mobilisasi PKS, mendorong para pendukung gerakan anti PKS untuk mendesain ulang strategi perjuangannya agar menjadi lebih rapih dan terarah guna memenangkan pasangan Rasyid-Rizki. Inilah yang menyebabkan suasana pemiluwa kali ini terasa agak memanas, tidak seperti biasanya, karena pertarungan ini dianggap oleh kedua kubu sebagai pertarungan eksistensi (harbul wujud).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemiluwa kali ini sebenarnya merupakan pertarungan antara kubu simpatisan PKS dan anti PKS.

Sengitnya pertarungan kali ini dapat dilihat dari tingginya partisipasi masisir terhadap pemiluwa kali ini, terbukti sebanyak 2000 mahasiswa turut berpartisipasi dalam perhelatan demokrasi mahasiswa kali ini. Sebuah angka sepektakuler belum pernah terjadi sebelumnya.

Sengitnya pertarungan kali ini juga dapat dilihat sebelumnya dari sengitnya pertarungan antara dua kubu di sidang-sidang MPA, saat kampanye, sidang istimewa, laporan pertanggung jawaban, pengerahan masa saat pemilihan, dan alotnya proses penghitungan, dan pasca perhitungan.

Walaupun pada akhirnya pertarungan bisa dimenangkan oleh pasangan M. Taufik dan M. Syadid dengan rekapitulasi suara: 1104 untuk pasangan pertama, 835 untuk pasangan kedua, 61 suara abstain, 5 diantaranya hilang, tapi ini bukan akhir dari pertarungan, ini baru babak awal dari sebuah pertempuran sengit.

Blue Print Gerakan Anti PKS

Ada yang perlu dicatat dalam proses pertarungan kali ini, yaitu bahwa desain dan strategi gerakan perlawanan para pendukung gerakan anti PKS terlihat lebih rapih, canggih dan terorganisir, barangkali dengan mengambil pelajaran dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya.

Kali ini gerakan anti PKS sengaja menampilkan Saudara Rasyid Satari, yang telah memiliki basis masa dan popularitas cukup bagus di tengah-tengah masisir, untuk dicalonkan dalam bursa Capres. Rasyid yang saat ini menjadi ketua umum PII, dan mulai sering tampil dalam forum-forum umum masisir, serta memiliki produktifitas sebagai penulis, diharapkan dapat mendulang suara dikalangan para akademis dan aktifis masisir.

Sementara Rizki yang lebih dikenal sebagai olah ragawan, dengan performent yang lumayan manarik diharapkan dapat meraup suara dan simpati dari kalangan olah ragawan, pecinta seni dan mahasiswi.

Dua kali kemenangan gerakan anti PKS sebelumnya juga memberikan pelajaran berharga kepada mereka bahwa untuk memenangkan pertarungan melawan simpatisan PKS dapat memanfaatkan anggota IKPM yang memang dikenal memiliki daya juang, kreatifitas dan etos kerja yang cukup tinggi, serta (ta’asshub) fanatisme kegontoran. Uktuk maksud itu pula Saudara Rizki yang juga merupakan anggota IKPM dicalonkan, walaupun popularitas Rizki di IKPM tidak tinggi.

Keberadaan beberapa orang senior dan beberapa mantan ketua IKPM dapat dengan efektif digunakan untuk menggiring opini anggota IKPM kearah yang dimaksud tersebut, sehingga beberapa anggota IKPM bahkan sebagian pengurus secara sadar atau tidak sadar tergiring untuk masuk kedalam lingkaran tersebut, yang sebenarnya tanpa disadari mereka itu telah mencederai lembaga IKPM sebagai lembaga yang berada “Diatas Dan Untuk Semua Golongan”.

Bahkan dukungan warga IKPM kepada Saudara Yazid dalam Pilpres tahun lalu, ditengarai disebabkan adanya penyebaran SMS dukungan dari Salah Satu Pak Kiyai Gontor untuk saudara Yazid, padahal Yazid bukan dicalonkan oleh IKPM, lebih dari itu cawapres yang menjadi rivalnya pada tahun yang lalu juga anggota IKPM (alumni Gontor) yang sebenarnya juga berhak mendapatkan dukungan dari Pak Kiyai Gontor, karena sama-sama nyanti di pondok yang sangat populer tidak mengeblok kemana-mana tersebut. Hal ini sangat disayangkan anggota IKPM lain yang pro PKS, karena gerakan anti PKS ini jelas-jelas tidak mengindahkan kode etik Pondok Modern Gontor yang seharus berdiri “Diatas dan Untuk Semua Golongan”.

Anehnya lagi, tergoda oleh hasil kemenangan tahun lalu disebabkan oleh sms pak kiyai ini, Dalam blue print strategi kemenangan gerakan anti PKS di Pimiluwa tahun ini, Usaha untuk mendapatkan dukungan sms dari pak kiyai itu juga ingin mereka ulang kembali untuk meraup simpati warga IKPM terutama dari mahasiswa/i baru yang belum begitu mengerti betul peta sebenarnya dari pertarungan ini.

Rizki juga dimunculkan untuk mengacau basis massa PKS yang sudah mengakar di KMM (Kekeluargaan Minang), jika nantinya PKS memunculkan kadernya untuk capres atau cawapres dari kekeluargaan ini.

Satu lagi yang mencengangkan adalah bahwa tahun ini gerakan anti PKS berhasil menyeret kawan-kawan salafi -yang berbeda secara ideologis- ke dalam lingkaran mereka. Gerakan salafi ini ditarik masuk ke dalam lingkaran anti PKS kerena dianggap penting untuk turut membantu tercapainya proyek pengacauan basis suara PKS di KMM, caranya dengan memunculkan calon alternatif dari KMM, agar menimbulkan kesan bahwa KMM tidak solid dan terjadi friksi di dalam. Disamping itu untuk mengesankan bahwa pengurus KMM tidak fair dan adil jika nantinya pengurus merekomendasikan kader dari PKS untuk maju dalam bursa Capres atau Cawapres.

Salah satu anggota KMM dari salafi yang sudah lama melakukan perlawanan terhadap hegemoni PKS ditubuh KMM, kali ini bersedia memimpin kampanye hitam terhadap calon yang diusung oleh KMM (dari kader PKS), serta mempelopori penggalangan kekuatan senior yang sudah mulai gerah dengan hegemoni PKS di KMM dalam sebuah gerakan anti hegemoni PKS yang disebut “Gerakan Peduli KMM”.

Pemerintahan Yang Diskriminatif

Paling tidak menurut kaca mata para simpatisan pks, Secara kasat mata saja mereka menilai bahwa pemerintahan saudara Yazid dan Heri sangat diwarnai oleh aroma diskrimatif yang kental terhadap PKS. hal Ini ditandai dengan:

1. Pembersihan total kabinet Yazid-Heri dari simpatisan PKS;

2. Usaha melarang PKS untuk menggunakan sarana dan fasilitas yang dimiliki oleh PPMI, rumah-rumah daerah, Wisma Nusantara dan lain-lain melewati rembuk Masisir;

3. setengah hati dalam mendukung program fusul taqwiyah karena salah satu pelaksana lapangannya adalah Syatibi Center yang dianggap sebagai underbow PKS;

4. Tidak menindaklanjuti program Mentoring yang telah disepakati dalam rembuk masisir, karena pelaksana lapangannya kembali ke Syatibi Center yang -seperti disebut diatas- ditengarai merupakan underbow PKS.

5. Mengusulkan dalam rapat gabungan triwulan Wisma Nusantara agar pengurus wisma Nusantara melarang Partai, terutama PKS menempel iklan layanan di kaca iklan Wisma Nusantara;

6. Menegur salah satu ketua DPD yang sering bekerja sama dengan kelompok Kajian SINAI karena ditengarai merupakan salah satu underbow PKS;

7. Juga menegur salah satu ketua DPD karena mengadakan acara diskusi tentang politik yang salah satu pembicaranya ditengarai sebagai kader PKS;

8. Tidak serius memberikan cover scurity terhadap acara-acara yang digelar oleh PIP bahkan terkesan mengancam dan menakut nakuti.

Mestinya sebagai Presiden dan Wakil Presiden PPMI, harus bisa berbuat adil terhadap seluruh anggota PPMI, dan seluruh organisasi yang ada di lingkungan masisir darimanapun asalnya, tanpa pilih kasih dan pilah pilih, mampu melepas baju primordialnya untuk berbuat demi kepentingan masisir secara menyeluruh.

Dalam blue print strategi perjuangan gerakan anti PKS, juga disebutkan bahwa semangat diskriminatif ini akan dilanjutkan dan lebih dipertegas lagi jika gerakan ini berhasil memenangkan pemiluwa tahun ini, dalam bentuk:

1. Rembuk masisir lanjutan dengan target utama penandatanganan dari seluruh elemen Masisir yang dikomandoi oleh PPMI untuk menolak perwakilan semua parpol yang ada di Mesir, terutama PKS.

2. Dalam rembuk Masisir ini juga (kalo bisa) akan disepakati untuk tidak melayani dan menjembatani semua kegiatan PKS di tempat-tempat kegiatan milik Masisir. Seperti Wisma Nusantara, Griya Jawa Tengah, dll

3. Akan disampaikan kepada state Security mengenai aktivitas partai politik yang tidak hanya terbatas pada saat pemilu. Dan data-datanya bisa dikumpulkan dari Wisma Nusantara, Griya Jawa Tengah, KPMJB dan lain-lain.

4. Untuk mendapatkan dukungan riil dari State Scurity akan disampaikan informasi provokatif kepada mereka bahwa aktivitas PKS selama ini mendapatkan dukungan dari Gerakan Ikhwan Mesir.

5. Dalam rembuk Masisir akan disepakati untuk menghilangkan LSM dengan alasan bahwa LSM sangat tidak berhubungan dengan mahasiswa. Hal ini perlu dilakukan Karena organisasi underbow PKS bermain di LSM, seperti Sinai, Ruhama dan Syatibi.

Intinya blue print gerakan anti PKS tahun ini mengerucut pada satu tema sentral yaitu “Saatnya tahun ini memberangus PKS ke akar-akarnya”.

Jika apa yang telah digariskan dalam blue print gerakan anti PKS ini diasumsikan benar-benar berhasil diwujudkan, maka itu artinya simpatisan PKS akan menghadapi Badai Tsunami besar yang mungkin saja akan menggulung eksistensi mereka di Mesir ini, dan kemungkinan besar para simpatisan PKS telah menyadari adanya ancaman ini, sehingga pada pemiluwa kali ini mereka bekerja keras untuk turut memenangkan pasangan M. Taufik dan M. Syadid yang pro mereka, atau mungkin justru dibawah desain mereka.

Akar Gerakan Dan Peta Pergerakan

Sebenarnya akar pertarungan antara pendukung PKS dan gerakan anti PKS, kembali kepada beberapa hal berikut:

Pertama: Pertarungan ideologis (Islam tradisionalis (yang anti wahabi), Liberal (anti syariah dan Islamisasi) dan Salafi (anti hizbiyyun)

Kemunculan kader-kader dan simpatisan PKS sebagai kekuatan yang hegemonik di lingkungan Masisir, tentu mengusik kader-kader Islam tradisionalis yang masih memandang bahwa PKS adalah representasi dari gerakan Wahabi. Kemunculan PKS secara kuat ini juga melupakan pertarungan lama mereka dengan gerkan Purifikasi Islam.

Sementara Gerakan Purifikasi Islam yang sebenarnya tidak terlihat adanya perbedaan mendasar dengan PKS secara Ideologis, sebagian kadernya di Mesir terpancing untuk turut memusuhi PKS akibat pengaruh dari arus anti PKS yang terjadi di Indonesia pasca dikeluarkannya SK resmi tentang keharusan anggotanya untuk berhati-hati terhadap Partai Politik terutama PKS. (Naskah resmi SK dapat dilihat dalam buku “Ilusi Negara Islam”)

Kelompok lain yang menjadi kayu bakar gerakan anti PKS adalah kelompok liberal (Islam Liberal), kelompok yang bersemayam –baik di Indonesia maupun di Mesir- di organisasi Islam tradisional ini, menempatkan PKS sebagai gerakan fundamentalis, yang bertujuan menegakkan syariat Islam, atau melakukan proses Islamisasi negara dan kehidupan, sesuatu proyek yang mereka letakkan dalam daftar hitam yang harus dibumi hanguskan. Pemikiran seperti ini dapat kita baca secara jelas pula dari buku “Ilusi Negara Islam

Di Indonesia yang menjadi target utama perlawanan gerakan liberal adalah gerakan Islam garis keras, karena gerakan ini sangat mengancam eksistensi mereka disebabkan oleh mobilisasi masa –kelompok ini- untuk menyerang secara fisik, serta mengamcam pembubarannya, namun dikarenakan kelompok garis keras ini tidak bisa berkembang di Mesir, akhirnya perlawanan diarahkan kepada PKS, karena dianggap sama-sama berada dalam satu garis sebagai gerakan yang ingin penerapan syariah.

Kelompok lain yang memiliki pertentangan secara ideologi dengan PKS adalah gerakan Salafi, karena dalam pandangan mereka, PKS merupakan gerakan hizbiyyun, madzhabiyyun, yang menyebabkan perpecahan umat. Bagi mereka mendirikan partai adalah bid’ah mungkarah, paling tidak karena dua alasan: pertama: karena mendirikan partai termasuk memecah belah umat, dan turut serta dalam proses demokrasi yang dianggap (tidak Islami). kedua: karena partai akan menyebabkan “al-khuruj ‘ala al-hakim”, yang merupakan bagian dari pemikiran khowarij.

Secara kebetulan, gerakan salafi ini mulai berkembang dengan kuat juga di KMM, walaupun gerakan ini belum bisa hidup subur di KMM akibat kekakuan dan ektrimitas pemikiran mereka sehingga tidak bisa menarik simpatik, namun demikian gerakan ini terus merayap, yang acap kali menginterupsi perjalanan kepengurusan KMM yang oleh mereka dianggap pro PKS.

Yang paling mengherankan dan mencengangkan adalah bahwa tahun ini gerakan ini turut serta dalam koalisi dengan gerakan anti PKS lainnya untuk melawan PKS walaupun diantara mereka terjadi perbedaan secara ideologis. (Walillahi fi kholqihi syuun).

Kedua: Pertarungan kepentingan Pragmatis (kelompok strategis, aktifis masisir)

Kayu bakar kelompok ini adalah para aktifis masisir yang memiliki ambisi untuk memunculkan diri, menonjolkan diri (narcis) tampil sebagai aktifis hebat di tengah Masisir, yang merasa bahwa kemunculan PKS di tengah arus deras dinamika Masisir menghambat ambisi besar mereka untuk bisa mengaktualisasi diri melalui kendaraan organisasi-organisasi yang ada di Masisir terutama PPMI.

Sebelum masuknya kader-kader PKS ke dalam kancah dinamika Masisir, mulai tahun 2000-an, kelompok aktifis inilah yang menguasai semua pusa-pusat keputusan dan organisasi di lingkungan Masisir, dari PPMI, organisasi afiliatif, kelompok study, hingga Organisasi kekeluargaan.

Kayu bakar kedua adalah kelompok strategis, kelompok ini merupakan kelompok elit pemikir strategis, yang berada dibalik dinamika masisir, yang juga menjadi thing tank bagi gerakan anti PKS saat ini.

Kelompok kecil ini saat ini mencoba mengorganisir diri untuk merapat ke KBRI, agar dapat mengakses proyek-proyek yang ada di Garden City. Dalam prakteknya kelompok elit pemikir strategis inilah yang merancang seluruh program yang digelindingkan, lalu setelah siap baru kemudian dilemparkan ke PPMI atau wihdah untuk melaksanakannya.

Menurut salah seorang mantan Ketua PPMI, dalam kondisi seperti ini PPMI hanya menjadi pelaksana tehnis yang tidak pernah diletakkan dalam posisi yang memiliki bergaining dengan KBRI sebagaimana yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Ini pada gilirannya nanti akan meng-kebiri peran PPMI, sehingga hanya menjadi perpanjangan tangan, yang lambat laun akan kehilangan daya kritis dan daya tawar, apalagi jika PPMI belum bisa keluar dari problematika kemandirian secara pendanaan.

Ketiga: Pertarungan tradisi (mahasiswa/i yang ingin bebas tanpa ada yang mengusik; ingin bebas pacaran, bebas merokok, bebas gondrong, bebas tidak kuliah, dst)

Secara empirik, Jelas kemunculan PKS sebagai gerakan turut mewarnai proses “Islamisasi” dalam bidang tradisi sosial kemasyarakat, selain dalam bidang politik. Ini dapat dilihat dari fenomena munculnya tradisi baru yang mulai membudaya seiring dengan meluasnya pengaruh PKS, seperti cara berpakaian, munculnya beragam bentuk seni yang baru dan unik seperti nasyid, novel Islam, film bernuansa Islam, lagu-lagu relegius dan seterusnya, tradisi Tarhib Ramadhan, tilawah, tadabbur, halaqah, demikian pula dalam bidang pola pergaulan, hubungan putra-putri yang lebih hati-hati, dan seterusnya.

Kondisi seperti ini tentu saja menjadikan mahasiswa yang inginnya bebas dalam segala hal seperti (bebas pacaran, bebas bergaul, bebas merokok, bebas main, bebas tidak kuliah, bebas tidak sholat, dst), tanpa ada yang mengusik, menjadi terusik dengan munculnya komunitas PKS, mereka mulai merasa dibatas-batasi, dimata-matai, dan dipermasalahkan, inilah yang kemudian memicu kebencian terhadap komunitas yang mereka anggap sok alim dan suci ini.

Pada awalnya perbedaan kepentingan dan latarbelakang ini tidak begitu memicu adanya konflik, karena pada kenyataannya simpatisan PKS tidak menyulut perbedaan tersebut, namun karena provokasi yang terus menerut serta mobilisasi yang begitu dahsyat akhirnya dapat menyatukan mereka dalam sebuah gerakan “Anti PKS” tersebut, dan dengan dimotori oleh kelompok kecil strategis, mereka memcoba mengorganisir semua elemen diatas yang tersebar di berbagai organisasi Masisir.

Arah dari gerakan ini nantinya bermuara pada satu titik yaitu “Anti PKS”, atau “Asal Bukan PKS”. Dalam berbagai momen isu ini dapat dengan efektif digunakan utuk memukul PKS, atau melemahkannya.

Muara dari gerakan ini juga nantinya akan berakhir pada opini bahwa berafiliasi ke Partai adalah tindak kriminal di tengah Masisir, karena pertama: dunia mahasiswa harus bebas dari partai politik, kedua: karena PKS memiliki keterkaitan dengan gerakan Ikhwan di Mesir, yang terlarang, sehingga masisir akan merasa ragu, takut dan bersalah jika menjadi simpatisan atau kader PKS, paling tidak mereka akan menyembunyikan identitasnya sebagai simpatisan PKS, dengan demikian PKS selamanya akan menjadi organisasi terlarang (anak haram) di tengah dinamika Masisir.

Walaupun dalam kenyataannya hal-hal seperti inilah yang justru menjadikan sebagian Masisir yang cerdas malah penasaran dengan PKS, yang akhirnya tak jarang malah menjadi simpatisan, sehingga jumlah mereka tiap tahun semakin bertambah bukan menyurut.

Dalam geraknya, selain mempengaruhi opini Masisir, gerakan ini juga merayap ke Garden City, untuk mempengaruhi opini di daerah Garden City, agar RI 1 di Mesir dan para diplomat serta lokal staff yang semestinya bertindak netral, dan menjadi pelayan bagi semua warga RI di mesir ini, paling tidak mulai menjadi bias. Tujuannya membuat agar Orang-orang Garden city merasa dibayang-bayangi oleh bahaya pengaruh PKS.

Sekenario Pasca Pemiluwa

Setelah calon dukungan simpatisan PKS berhasil memenangkan pemiluwa 2009, ini bukan akhir dari pertarungan, justru permulaan dari pertarungan yang sesungguhnya, karena diprediksikan kekuatan anti PKS akan melakukan hal-hal berikut untuk mengganjal laju dinamika PKS dengan cara antara lain:

1. Menolak hasil Pemiluwa, jika benar ini yang dilakukan secara serius maka paling tidak –dalam kondisi kalah- akan tercipta kesan bahwa pemerintahan saat ini unlegitimed. Dan dalam kondisi ada perlawanan yang serius dari simpatisan PKS, maka bisa saja terjadi kondisi chaos, disini sekenario ambil alih kekuasaan oleh Presiden bisa saja menjadi anternatif.

2. Jika usaha mereka untuk menjegal legalitas Pemiluwa tidak berhasil, diprediksikan gerakan ini akan terus mengkritisi semua sepak terjang pemerintahan kedepan secara tajam dan kejam, dalam hal ini mereka akan menggunakan media masisir yang memang sejak lama mereka kuasai, disamping akan melakukan secara inten melewati mailis-mailis, facebook, off line dan seterusnya. Sehingga dapat diprediksikan bahwa Media Masisir akan kembali hidup dan kritis terhadap pemerintahan mendatang, setelah satu tahun kebelakang media-media ini berpuasa total, untuk tidak mengkritisi kroni-kroni mereka yang berada di pemerintahan Yazid-Heri.

3. Menyebarkan isu bahwa pemerintahan PPMI sekarang anti KBRI, tidak kooperatif dengan program-program KBRI, dan akan mengusik kinerja KBRI dalam mensikapi hasil Lokakarya, dengan demikian diharapkan KBRI akan setengah-setengah bekerja sama dengan PPMI, jika benar ini yang akan terjadi, maka KBRI diharapkan akan memilih langkah ke (4) agar tetap bisa melakukan programnya.

4. langkah ke empat yang dimaksud adalah: Meng-efektifkan kelompok strategis untuk menjadi tandingan PPMI. Langkah ini dianggap strategis dan efektif dalam kondisi PPMI tidak menjadi mitra mereka secara positif. Dimana turunan program bisa tidak lagi diteruskan ke PPMI tapi bisa diteruskan kepada organisasi yang menjadi mitra dan basisnya. Dengan demikian PPMI akan terlihat kehilangan gigi dan kekuatan.

5. Langkah terakhir adalah usaha untuk menghambat pengucuran dana dari KBRI ke PPMI melalui jaringan yang telah dibangun, seperti melalui jaringan kelompok strategis, dan sebagian lokal staff yang anti PKS. Dengan demikian laju dinamika PPMI akan seret atau macet, bila tidak bisa berhenti total, karena selama ini KBRI masih menjadi satu-satunya sumber pendanaan terbesar bagi dinamika PPMI.

Harapan

Jika ini yang terjadi dan tidak henti-hentinya kader-kader dan simpatisan PKS mengeluhkan bahwa mereka didzalimi, dieliminir, atau diperlakukan secara diskriminatif serta dijadikan warga kelas dua di tengah Masisir, sehingga mereka melakukan perlawanan semisal, maka yang akan terjadi adalah dinamika Masisir harus berputar di tengah pusaran konflik internal yang kontraproduktif, Masisir akan disibukkan dan dibuat lelah oleh makar terhadap kawannya sendiri, disibukkan menjawab tuduhan dan fitnah kelompok lain, disibukkan oleh hal-hal remeh yang tidak berbobot, sehingga hati menjadi keruh, pikiran menjadi jahad dan wajah menjadi tegang, Yang berarti Masisir harus berputar pada dirinya sendiri, lupa untuk berfikir ekspansif yang bisa menerobas batas teritorial Mesir yang sempit untuk menjadi pelopor dalam dinamika pergerakan Mahasiswa dunia, atau paling tidak proses penyiapan diri agar alumni Azhar dan seluruh lembaga pendidikan di Mesir mendapatkan penerimaan yang lebih luas nantinya setelah kembali ke Tanah Air tentunya akan tergangu dengan hal-hal yang tidak prioritas.

Dalam kondisi seperti ini, Masisir hanya memiliki dua alternatif: tetap berada dalam kubangan konflik yang berkepanjangan atau mencoba belajar dan mencoba untuk melampaui konflik internal ini demi membangun hubungan yang lebih efektif, sinergis dan dinamis.

Menurut hemat saya terus menerus Mempermasalahkan apalagi mengeliminir eksistensi simpatisan/kader PKS di Mesir, tidak memecahkan masalah, karena mau-tidak mau, PKS dan kadernya merupakan realita.

Terasa aneh jika ada yang ingin mengeliminir satu elemen yang jumlahnya sudah mencapai seperlima dari jumlah masyarakat (dengan asumsi jumlah simpatisan dan kader PKS mencapai angka 1006). Menurut hemat saya, argumentasi yang menyatakan bahwa komunitas PKS harus dieliminir karena PKS adalah Partai, dan Mahasiswa harus bebas dari pengaruh Partai, merupakan argumentasi yang diada-adakan dan dipaksakan untuk kepentingan politik. Karena semua tahu bahwa PKS bukan hanya sekedar Partai, PKS adalah gerakan Dakwah, Gerakan Tarbiyah, Gerakan Pembinaan, Gerakan Perubahan, sementara Partai hanya merupakan chasingnya saja. Kedua: dalam kenyataannya keberadaan PKS ditengah-tengah Masisir sama sekali tidak mengganggu prestasi dan tujuan Masisir datang ke Mesir untuk thalabul ilmi, tapi justru sebaliknya, prestasi para kader/simpatisan PKS dapat dilihat dengan kasat mata.

Namun demikian disisi lain, dimanika simpatisan PKS juga perlu diarahkan untuk bisa lebih arif lagi, walaupun “mayoritas” (dengan asumsi hasil pemilu/pemiluwa), simpatisan PKS perlu menyadari bahwa aktifis lain juga memiliki hak untuk beraktualisasi, untuk meningkatkan diri dan meraih cita-cita. Tetap mengajak rival untuk sharing dalam pemerintahan –seperti yang terjadi pada Wihdah tahun ini dan tahun sebelumnya- adalah awal dari permulaan baik, tetap men-akomudir pendapat dan gagasan positif aktifis lain adalah keharusan, dan tetap membagi barkah kepada mereka adalah kelaziman.

Walaupun sebagai kelompok, bila sudah memegang pemerintahan, berarti menjadi milik masyarakat banyak, menjadi milik ummat, tidak boleh mendiskriminasikan kelompok lain, berbuat adil sampai kepada rival adalah bagian dari semangat ketakwaan.

Solusinya, kita perlu membicarkan satu sistem yang tidak lagi membicarakan anda dari mana? , anda dari kelompok mana?, anda marga apa?, anda partai atau tidak?, tapi anda bisa apa?, dan apa yang anda bisa berikan kepada Masisir?, bagimana kita bisa memberikan kontribusi besar nantinya saat kita kembali ke tanah air?. Disitu seluruh elemen Masisir bisa bersinergi secara sejajar, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Sama-sama bergandeng tangan, untuk mencapai tujuan mulia. Biarlah baju masing-masing berbeda, asal tujuan dan kata kita sama, biarlah warna kita berwarna-warni, asal apa yang ada dalam benak dan pikiran kita sama, yaitu: “Kemajuan Masisir“, “Prestasi Masisir“, “Karya Besar Masisir” dan “Harumnya Nama Masisir“.

Saya masih optimis, bahwa sinergi ini masih bisa dibangun, asal semua elemen bersedia meninggalkan egoisnya, tidak saling menindas dan mengeliminir.

Walaupun slogan berikut milik PKS, tetapi tidak ada salahnya kita kumandangkan bersama “Bangkit Masisir, Harapan itu Masih Ada”. Wallahu a’lam.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.