Di usia menapaki lebih dari seperempat abad, teman-teman saya sudah ada yang lulus S-2, menjalani karier yang prospektif dan mantap, serta berkeluarga dengan mapan. Membandingkan diri dengan keadaan rekan-rekan seangkatan dan mencoba menganalisa diri ada di posisi mana. Tidak jarang, kita merasa posisi kita masih belum sejajar dengan mereka.
Seorang psikolog mengatakan, jangan pernah membandingkan apa yang ada dalam diri orang lain dengan apa yang kita miliki. Karena biasanya, ini berakhir dengan perasaan buruk. Kalau kita merasa diri lebih baik, akan ada rasa sombong hinggap dalam diri. Akibatnya, merasa sudah cukup melakukan usaha, bahkan berhenti memberikan upaya optimal karena merasa sudah ‘lebih baik’ dari orang lain.Sementara bila sebaliknya, kita lalu akan merasa gagal dan rendah diri, terkadang hadir perasaan inferior dan minder.Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?
Psikolog mengatakan, ukur keberhasilan kita dengan upaya yang sudah dijalankan disertai kemampuan yang nyata ada pada diri kita saat ini dengan keadaan diri kita di masa lalu. Lihat dengan jujur ke dalam diri, apakah kita sudah berupaya sebaik-baiknya meraih kesuksesan versi kita sendiri? Sehingga akan lebih mengenal lebih dalam diri kita sendiri baik kelebihan atau kelemahannya, lalu kita menetapkan sebuah target yang bisa kita jadikan sebagai ukuran à target kesuksesan yang Islami.Sebagaimana Rasulullah bersabda, barangsiapa yang hari ini lebih baik dibandingkan yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang sukses. Barangsiapa yang hari ini sama seperti yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang tertipu. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan yang terdahulu, maka dia termasuk orang-orang yang merugi di hadapan Allah SWT. Mudah-mudahan, kita termasuk dalam golongan orang-orang yang memilii keadaan hari ini lebih baik daripada hari kemarin.Allah telah menciptakan kita dan makhluk yang hidup di alam semesta ini telah ditentukan segalanya, termasuk rizqiNya. Semua mempunyai cara tersendiri untuk mendapatkan rizqi dan masing-masing mendapat kadar yang berbeda beda sesuai kehendak Allah. Ayam mengais-ngais tanah untuk mendapatkan rizqi, burung terbang dari sarangnya, kerbau menuju ke padang ilalang, itik berenang di sungai dan itulah cara mereka untuk mendapatkan rizqi. Bahkan ada binatang yang tidak mampu mengurus rizqinya sendiri, namun Allah tetap memberikan kepada mereka dalam surah Al Ankabut : 60:Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan dia Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Burung dengan ular
Ibnul Jauzi pernah mengemukakan kisah yang menarik tentang ular buta. Ketika ular tersebut melilitkan tubuhnya di pohon kuema, seekor burung datang membawa sepotong daging dan menyuapkannya ke mulut ular. Saat mendekati ular, si burung mengeluarkan bunyi bunyian dan bersiut sampai ular tersebut membuka mulutnya. Baru setelah itu, si burung memasukkan potongan daging tersebut ke mulutnya. Maha suci Allah yang telah membuat burung ini menurut pada sang ular.
Cicak dan Nyamuk
Cicak makanannya …. NyamukNyamuk bisa terbang….. Cicak tidak bisa terbang Namun Allah memberikan kelebihan pada cicak dapat makan nyamuk.Nyamuk sendiri, untuk mendapatkan makan/rizki harus mengorbankan nyawanya….Kita tidak perlu risau hidup di dunia ini, karena Allah yang menciptakan dan yang memberi rizki dari yang tidak di sangka sangka dan bagi orang yang bertaqwa Allah akan mencukupi seluruh rizki baik lahir dan batin.Kadang kala kita diberikan banyak kekayaan, belum tentu kita lebih dicintai Allah, melainkan sebagai cobaan. Harta yang baik bukan harta yang banyak, akan tetapi yang baik adalah harta yang barokah ( menurut AA Gym 3 ciri berkah : batin tenang –mencukupi (pas butuh cukup) – dirinya lebih berharga daripada hartanya) sehingga harta itu memberi manfaat untuk dunia dan akherat. Orang dikatakan kaya jika sedikitnya kebutuhan dan senang menginfakkan hartanya di jalan Allah, sehingga tidak takut kekurangan dan yakin akan jaminan Allah. Oleh karena rizqi merupakan urusan Allah, maka ukuran kekayaan sebenarnya bukan terletak pada seberapa banyaknya harta seseorang, akan tetapi terletak bagaimana kelapangan hati seseorang menerima pemberian Allah. Rasulullah saw telah bersabda:Bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta dan benda Tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” (Bukhari)Apa yang ada jarang disyukuriApa yang tiada sering dirisaukan….. Seorang teman, alumni STM, kerja sebagai juru parkir, menemuiku. Dengan gaji yang dibawah UMR dia masih sempat menabung dan membeli motor bekas, kok bisa?!. Dia menikmati semua yang ia dapatkan, mencoba tuk berhemat dan tidak mengeluh.Temanku yang lain, lulusan S1, seorang guru swasta. Jangan tanya gajinya, jauh dibawah standar gaji pemerintah. Dengan satu anak dan istri dia hidup dengan mengontrak rumah dan menyicil motor. Kebutuhan lainnya dia coba tutupi dengan memberikan les privat, yang ternyata hasilnya jauh lebih besar dari gajinya di sekolah.Seorang ustadz, hafizh qur’an. Walaupun seorang alumni perguruan tinggi negeri tetapi kesehariannya ia sebagai tukang ojek. Hidup dengan rumah sederhana. Kabar terakhir yg kutahu, sekarang dia mengajar di salah satu mesjid besar.itu baru beberapa profile rekan dan kenalanku, ada yang lebih parah lagi dari itu.
Tentu bukan tuk pasrah dengan keadaan, tetapi tetap berusaha sambil bersabar dan bersyukur. Jadi pahala dapet, hati tentrem :)Seberapa pun baik dan gigihnya usaha seseorang belum tentu ia akan menjadi kaya, demikian pula sebaliknya. Yang terbaik adalah mereka yang mensyukuri rizqi yang telah ditentukan Allah baginya, dan tetap melakukan usaha semaksimal mungkin mencari karunia Allah- Sabda Rasuiullah saw:(Sungguh untung orang yang masuk Islam dan rizqinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa pemberian Allah kepadanya) (Muslim)Mensyukuri nikmat tidak hanya dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah, akan tetapi bersyukur juga bermakna tidak menyia-nyiakan anugerah Allah berupa apa saja. Selebihnya dia merasa tenang dan cukup dengan semua limpahan anugerah itu dan akan senantiasa berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik dan diridhoi Allah swt- Orang-orang semacam inilah yang dikatakan beruntung, sebagaimana sabda Rasulullah saw:“Untung bahagialah siapa yang mendapat hidayat ta’at pada ajaran Islam dan penghidupannya sederhana dan menerima(merasa cukup dengan apa yang ada).” (At-Tirmidzi)Dan sesungguhnya letak kebahagiaan seseorang adalah ketika dirinya bersikap qona’ah, yakni merasa cukup dengan limpahan anugerah Allah swt. Orang yang senantiasa merasa kurang dengan limpahan anugerah Allah swt akan merasa tidak pernah bahagia dan tidak pernah beruntung. Sekaya apapun orang itu dia akan selalu merasa kekurangan dan akan selalu mencari bermacam-macam jalan untuk memenuhi nafsunya. Bahkan ketika dia berhasil mendapat apa yang diinginkan, diapun akan kembali merasa tidak puas. Dia akan bernafsu untuk mendapatkan yang lain yang lebih besar lagi, yang lebih hebat lagi. Dan apabila gagal mendapatkan apa yang diinginkan itu, dia akan menjadi sedih dan putus asa.Rasulullah saw menyindir orang-orang semacam ini dengan sabda beliau: ”Celaka dan kecewa hamba dinar atau dirham atau hamba perhiasan, permadani atau pakaian. Jika diberi diam (rela) dan jika tidak diberi tidak rela (ngomel).” (Bukhari).Dalam masalah harta keduniaan kita diajarkan untuk selalu merasa cukup (qona’ah). Perasaan ini akan membawa seseorang merasa bahwa dirinya adalah orang yang kaya. Rasulullah mengajarkan: (‘Lihatlah orang, yang di bawahmu, dan jangan melihat orang yang di atasmu, karena demikian itu lebih tepat, supaya kamu tidak meremehkan nikmat karunia Allah kepada kamu’) (Bukhari)
Kisah Permohonan si Kaya dan si Miskin
Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur amat panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS, “Ya Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya. Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, “saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja”!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya, juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu. Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, “wahai saudaraku, janganlah kamu tidak bersyukur kepada Allah SWT. Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya”, jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya.
Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.Akan tetapi dalam masalah ilmu dan amal, kita boleh merasa haus. Ilmu Qur’an dan segala perangkat pendukungnya termasuk bahasa Arab; llmu Hadits dengan segala perangkatnya; juga ilmu-ilmu pengetahuan dengan segala perangkatnya sebagai satu satu sarana dalam tugas manusia sebagai khalifah di atas muka bumi.“Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap Muslimin dan Muslimat.” Qona’ah dalam bidang ilmu mempunyai ciri: dengan semakin banyak ilmunya, semakin dekat kepada Allah dan semakin senang memberikan ilmu itu kepada orang lain.Diajarkan pula untuk senantiasa merasa kurang dalam mencari pahala dan ampunan dari Allah swt. Dan dalam aktivitas hidup senantiasa saling berlomba-lomba untuk mencapai keduanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala QS Ali Imron : 133(Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang orang yang bertakwa). ( Ali Imron : 133)= Untuk mencari akherat à lari= Untuk mendapatkan dunia à berjalanpun akan mendapatkanAda perbedaan yang mendasar antara haus akan dunia dan haus akan akhirat. Dunia bersilat fana dan apa yang menjadi keinginannya tidak selalu akan terkabulkan walau pun sudah berusaha sebaik mungkin. Sedangkan akhirat bersifat kekal dan setiap orang yang berusaha meraihnya dengan ikhlas sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, Insya Allah dia akan mendapatkan.(Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan; perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang kerasdan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kenangan yang menipu.) (al Hadiid(57): 20)Lihatlah apa yang diinginkan Rasulullah saw apabila beliau mempunyai harta yang banyak: ”Andaikan saya mempunyai emas sebesar bukit Uhud, niscaya saya lebih senang kalau emas itu tidak lebih dari tiga hari di tangan saya, kecuali jika saya meninggalkan sisa untuk membayar hutang.” (Bukhari)Orang yang bersikap qona’ah (merasa cukup dengan limpahan rizqi serta anugerah Allah swt) inilah orang yang mampu mengendalikan dunia. Dia akan mampu hidup diberbagai kondisi dan akan tetap bersyukur kepada Allah swt.Dalam lintasan sejarah tercatat bagaimana mudahnya menaklukan orang yang terlalaikan kemewahan dunia. Raja Persia ketika ditaklukkan pasukan Muslimin, merasa merasa ketakutan sampai melarikan diri dengan membawa harta kekayaan beserta puluhan juru masak istana. Tetapi dia merasa sebagai orang yang paling malang di dunia. Negara Italia pada saat Perang Dunia II mengalami kekalahan dan menyerah hanya karena takut kenikmatannya didiskotik-diskotik dan bar-bar terganggu. Tentara Sovyet banyak yang kecanduan obat penenang atau menyatakan menyerah karena tidak kuat menahan beban hatinya yang masih takut akan kekalahan. Dan sejarah ini akan senantiasa terulang sebagai suatu sunatullah.Dalam sikap qona’ah, seseorang terdidik untuk senantiasa meletakkan kebesaran dunia di tangannya secara proposional dan meletakkan kebesaran akhirat di hatinya. Terjagalah kemuliaan dirinya dengan tidak pernah meminta-minta, bahkan berusaha untuk selalu memberi. Rasulullah saw bersabda:”Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Dan dahulukan dalam bersedekah orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-baik sedekah adalah yang masih meninggalkan kekayaan. Dan siapa yang sopan, segan, Allah akan memelihara keseganan dan kesopanannya. Dan siapa yang suka mencukupkan dengan kekayaan yang ada, Allah akan mencukupkannya.” (Bukhari)Seseorang yang qona’ah akan menjaga dirinya dari meminta-minta. Sabda Rasulullah saw: ”Siapa minta-minta untuk memperbanyak kekayaan, maka tiada lain hanya memperbanyak bara api. Maka terserah padanya akan memperbanyak atau mengurangi.” (Muslim)Meminta-minta diperkenankan hanya kepada raja (pemerintah) atau dalam keadaan darurat. Sabda Rasulullah saw:”Sesungguhnya meminta-minta itu bagai cacat (luka) yang digariskan orang di mukanya, kecuali jika minta pada raja (pemerintah) atau meminta hajat darurat.” (At Tirmidzi)Sikap qona’ah adalah suatu sikap Mukmin yang mengagumkan dan Rasul sendiri kagum dengannya.”Sangat mengagumkan keadaan seorang Mukmin, sebab segala keadaan untuknya sangat baik dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka syukur itu baik baginya; dan bila menderita kesusahan ia bersabar, maka kesabaran itu lebih baik baginya.” (Muslim)
Pada suatu hari ada dua orang pemancing sedang melakukan aktifitas pemancingan di suatu sungai. Pemancing pertama adalah seorang kakek yang sangat bijaksana sedangkan pemancing yang satunya lagi adalah seorang anak muda yang penuh gelora. Setelah lama memancing, anak muda mulai menggerutu. Diantara ungkapan yang terlontar : menyalahkan alat pancingnyalah, sungai yang tidak ada ikanlah sampai hari yang sial bagi dirinya. Intinya dia tidak puas dengan proses mancingnya karena sudah lama tidak ada satu ikan pun yang nyangkut di mata kailnya. Berbeda dengan sang kakek yang dengan begitu tenangnya menikmati proses memancing karena sang kakek berhasil dengan mendapatkan ikan berkali-kali dan besar-besar.Melihat anak muda yang menggerutu tadi, sang kakek mendekatinya dan berkata :
“pada halaman pertama buku Resep Memancing tertulis kata SABAR, jadi kita tidak usah menyalahkan siapapun tapi berusahalah terus dengan penuh kesabaran”Mendengar nasehat dari sang kakek, anak muda tadi mulai lagi memancing. Sekarang dia sudah mulai tenang dan tidak menggerutu lagi seperti tadi. Atas nasehat sang kakek akhirnya anak muda tadi sudah mulai mendapatkan ikan satu persatu. Namun lama-kelamaan mulai lagi menggerutunya karena ikan yang didapatkan semuanya masih kecil-kecil. Sedangkan yang didapat sang kakek ikannya besar-besar.Mendengar gerutuan anak muda, sang kakek mendekat lagi dan berkata :
“dalam buku Resep Memancing pada halaman kedua tertulis QANA’AH. Jadi kita harus menerima apa saja yang diberikan Allah kepada kita saat ini dengan penuh keikhlasan”. Atas nasehat sang kakek, anak muda tadi kembali tenang dan mencoba untuk bisa menerima pemberian Allah saat itu. Akhirnya anak muda tadi mulai sedikit demi sedikit mendapatkan ikan besar sebagaimana yang diharapkan.Selesai memancing, kedua orang ini mulai mengemasi perbekalan dan hasil tangkapan hari itu. Sebelum pamit, sang kakek menghampiri anak muda dan berkata :
”Wahai anak muda, dalam halaman terakhir buku Resep Memancing tertulis SYUKUR, maksudnya kita harus bisa mensyukuri apa yang kita terima dan jangan SERAKAH”. Makanya ambil ikan yang besar-besar untukmu dan kembalikan ikan yang kecil-kecil supaya kamu nanti dapat memancingnya lagi suatu saat.Saudara sekalian, sebagai seorang manusia apalagi pebisnis kita harus mampu menempatkan SABAR-QANA’AH-SYUKUR ini secara silih berganti dalam siklus kehidupan kita.
Fondasi Sifat Qona’ah
Fondasi yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah keyakinan yang benar, keimanan yang mantap. Keimanan dan pengetahuan seorang mukmin terhadap Allah beserta nama dan sifatnya; akan menjadikan dirinya merenungkan firman, perintah dan penjelasan-Nya; yang hasilnya ia akan memahami hakikat dunia, hakikat dirinya, dan hakikat qona’ah beserta manfaatnya di dunia dan di akhirat.Keimanan kepada hari akhir akan mendorong seorang mukmin untuk memiliki sikap zuhud terhadap dunia. Pemikirannya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia paham, bahwa hidup dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang ia pelajari dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Apa perluku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah ibarat pengendara ynag tidur siang sejenak di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan meninggalkannya.” (HR.Ahmad dan Tirmidzi). Hal ini akan menjadikannya bersikap menerima apapun yang terjadi dengan dirinya dengan senang hati.Keimanan terhadap takdir yang baik maupun buruk akan memberikan sikap tenang dan ridho terhadap apa yang dialami, suka maupun duka. Hatinya senantiasa lapang, ia tidak mengenal kata gundah dengan sedikitnya rizki, lemahnya daya, maupun kemiskinan yang menimpanya.7 cara untuk menumbuhkan sifat qona’ah dan menerima dengan senang hati rizki dan penghidupan yang telah dibagikan Allah kepada setiap kita.
Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari menyebutkan beberapa faktor yang mendukung kita untuk memperoleh akhlak yang sangat berharga ini:
1. Ilmu agama
Ilmu agama merupakan faktor utama untuk memperoleh harta yang tidak terkira ini. Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat, dan bahaya jika melalaikan qona’ah. Ilmu agama menjelaskan kepada kita hakikat dunia, menyingkap rahasia-rahasianya, dan bahaya-bahaya terlalu berorientasi kepadanya. Ilmu agama akan mendorong kita untuk mencintai dan mengerahkan seluruh perhatian kita kepada kampung akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi.“Dan tiadalah kehidupan di dunia ini selain main-main dan sendau gurau. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memahaminya? (Al-An’am:32)Dengan ilmu pula kita memperoleh pengetahuan tentang Allah Azza wa ‘Ala dengan seluruh nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang tinggi. Kebenaran akidah: iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir yang baik maupun buruk, yang hal itu merupakan pondasi dasar yang memiliki pengaruh sangat besar dalam mewujudkan sifat qona’ah, semuanya dapat diperoleh dengan ilmu agama.
2. Keimanan yang mantap
Ilmu yang kita miliki (insya Allah) berbuah menjadi keimanan yang mantap. Kuat lemahnya sifat qona’ah dalam menghadapi berbagai “fitnah” dunia ini, sesuai dengan tingkat kekuatan iman yang ada pada setiap kita.
3. Pemahaman yang benar tentang qodho dan qodar
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup seluruh manusia sejak zaman azali. Pembagian yang dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan ketetapan berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu-Nya. Jika kita memahami bahwa ambisi, keluh kesah, dan perhatian kita terhadap dunia dan harta, tidak akan menambah rizki, (karena tidak mungkin kita bisa mengoreksi ketetapan dan qodar Allah); pemahaman seperti dapat menumbuhkan sifat qona’ah, tenang, rileks terhadap keadaan yang diterimanya, apakah kita kaya maupun miskin.Sikap ridho seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan qodha dan qodar Allah akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah, Allah juga yang telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihkan yang satu terhadap yang lainnya. Perbedaan ini merupakan ujian bagi kita; ujian bagi orang kaya engan kelebihannya, ujian bagi orang miskin dengan kekurangannya. Perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin dalam rizki bukan merupakan bukti mengenai perbedaan kedudukan keduanya di dunia maupun di sisi Allah Azza wa Jalla. “Apakah mereka yang membagi-bagi rahamt Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az Zukhruf:32)“Bersikaplah ridho terhadap apa yang dibagikan oleh Allah, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya.” (HR.Ahmad)
4. Perjuangan Mental dan Bersabar
Sesuai dengan kebijaksanan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kita nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhan.(Yusuf:53). Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya terhadap sikap qona’ah. Selama kita tidak melawan nafsu beserta keliarannya, ketika itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi, ketamakan, kerakusan, kekikiran, dan keluh kesah.“Jauhilah sifat syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang sebelummu, mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan melanggar hal-hal yang diharamkan bagi mereka.” (HR.Muslim)Imam Ibnu Rojab al Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa syuhh adalah ambisi besar yang mendorong pemilikinya mengambil banyak hal yang tidak halal, tidak menunaikan kewajiban terhadapnya. Substansi sifat ini adalah kerinduan diri kepada apa yang diharamkan oelh Allah serta tidak puas dengan yang telah dihalalkan oelh Alloh, baik menyangkut harta, kemaluan, atau lainnya.Mengendalikan nafsu dan memaksanya memiliki sikap qona’ah membutuhkan kesabaran dan ketabahan dari seorang mukmin. Kesabaran di sini berkaitan dengan hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang meragukan; karena sifat qona’ah menuntut sikap zuhud, ridho, dan waro’. Sabar dalam ketaatan dan tidak berbuat maksiat.
5. Berdoa dan Memohon kepada Allah
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan.” (HR.Muslim)Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di rahimahullah, berkata:”Ini merupakan salah satu doa yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Doa ini mengandung permohonan agar dikarunia kebaikan di dunia dan akhirat. ‘Afaf (sikap menjaga martabat) dan ghina (kekayaan) mengandung arti menjaga kehormatan di hadapan sesama manusia, tidak menggantungkan diri kepada mereka dan merasa kaya dengan Alloh, rizki-Nya, sikap menerima dengan senang hati terhadap apa yang ada pada dirinya, serta diperolehnya kecukupan yang bisa menenangkan hati. Dengan semua itu, sempuralah kebahagiaan hidup di dunia dan ketenangan batin, dan itulah hayah thoyyibah (kehidupan yang baik).
6. Menjauhi Orang-Orang yang Suka Berkeluh Kesah
Teman, kawan, orang-orang di sekitar kita, sangat besar pengaruhnya pada diri kita. Siapa yang lama berkawan dengan orang-orang yang suka berkeluh kesah dan ambisius, maka akan tertimpa penyakit mereka. Hawa nafsu dan akhlak mereka akan menular kepada dirinya. Sebaliknya, berkawan dengan orang-orang sholih, senantiasa berdzikir, zuhud (sekalipun mereka adalah orang-orang kaya dan lapang), akan mendorong kita mengikuti mereka: memiliki sifat qona’ah, zuhud, menerima dengan senang hati semua rizki yang telah dibagikan oleh Allah.Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Seseorang mengikuti agama kawan dekatnya, maka hendaklah setiap orang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi kawan dekatnya.”
7. Melihat yang “di bawah“
“Andaikata anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia ingin memiliki dua lembah, dan mulutnya tidak kunjung bisa dipenuhi, kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat.” (HR.Bukhari-MuslimManusia, memiliki watak dasar yang mendorongnya untuk mencintai harta dan dunia. (terkadang) hal ini menjadikan kita melupakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bagaimanapun keadaan yang ada pada diri kita, setiap kita pasti telah dikaruniai nikmat dari Allah yang saking banyaknya tidak mampu kita inventarisir dan hitung. Bukan hanya telah, tapi semua yang telah dan akan kita alami adalah nikmat dan karunia Allah yang terkira.Namun, nikmat dan karunia yang telah Allah berikan secara gratis kepada kita, terkadang terabaikan. Kita merasa kurang dan kurang… kita tidak peduli dan tidak menyadari nilainya… Hal ini bisa jadi karena kita selalu melihat orang-orang yang mendapat nikmat lebih baik dari kita.Seandainya kita melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, orang-orang yang ada “dibawah” kita… atau satu atau beberapa nikmat dari Allah dicabut (misal: nikmat sehat)… baru kita merasakan nikmat-nikmat itu… barulah kita merasa tenang; oleh karena itu; salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya sifat qona’ah adalah melihat orang yang keadaannya “dibawah” kita.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Lihatlah kepada siapa yang lebih rendah dari kalian, jangan melihat kepada siapa yang lebih tinggi dari kalian; karena itu akan menjadikan kalian tidak menyepelekan nikmat Allah.” (HR.Bukhori)
Penutup
Pengetahuan tentang hal ini bukan semata-mata pengetahuan ilmiah naratif yang kering dari substansi pelaksanaan yang bisa membedakan antara orang yang bersikap qona’ah atau senantiasa gundah gulana dan berkeluh kesah. Terkadang kita temui, orang yang memiliki sifat qona’ah melimpah ruah tidak hafal dalil-dalil ilmiah dan prinsip-prinsip tersebut selain kandungan makna yang shohih. Dipihak lain, terkadang kita jumpai orang yang mengaku “berilmu” namun tidak memiliki sifat qona’ah sama sekali. Inilah kenyataan yang ada pada kita sekarang ini. Anda ingin menjadi yang mana, wahai Saudaraku? Semoga Allah senantiasa menghiasi diri, keluarga, dan keturunan kita; serta kaum muslimin dengan sifat qona’ah. Amiin.
Ilmu, Perhiasan Tak Ternilai Bagi Muslimah
Untaian Nasehat:
Seorang yang mendambakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat harus memiliki pedoman dalam menapaki kehidupannya di dunia. Dan pedoman hidup seorang hamba semua telah diatur dalam syariat Islam.
Seorang yang sukses bukanlah orang yang hidup dengan bersemboyan ‘semau gue’ dengan mengikuti hawa nafsunya, tapi orang yang sukses adalah orang yang mengambil Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan pemahaman As Salafus Shalih sebagai pengikat aturan hidupnya. Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ini tidak mungkin dapat diketahui tanpa menuntut ilmu syar’i. Karena itulah, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah yang baligh dan berakal (mukallaf) untuk menuntut ilmu.
Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan. Lihat kitab Jami’ Bayan Al ‘Ilmi wa Fadllihi karya Ibnu ‘Abdil Bar, tahqiq Abi Al Asybal Az Zuhri, yang membahas panjang lebar tentang derajat hadits ini)
Imam Ahmad rahimahullah mengatakan bahwa ilmu yang wajib dituntut di sini adalah ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang, seperti dalam perkara shalatnya, puasanya, dan semisalnya. Dan segala sesuatu yang wajib diamalkan manusia maka wajib pula mengilmuinya, seperti pokok-pokok keimanan, syariat Islam, perkara-perkara haram yang harus dijauhi, perkara muamalah, dan segala yang dapat menyempurnakan kewajibannya.
Sebagai hamba Allah, seorang Muslimah wajib mengenal Rabbnya yang meliputi pengetahuan terhadap nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana diberitakan dalam Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Selain itu, ia harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersendiri dalam Mencipta, Mengatur, Memiliki, dan Memberi Rezeki. Ia pun wajib menunaikan hak-hak Allah, yaitu beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sebagaimana tujuan penciptaannya.
Allah berfirman :
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56)
Seseorang tidak akan berada di atas hakikat agamanya sebelum ia berilmu atau mengenal Allah Ta’ala. Pengenalan ini tidak akan terjadi kecuali dengan menuntut ilmu Dien (Agama Islam).
Di samping mengenal Allah, seorang Muslimah juga wajib mengenal Nabi-nya, yaitu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, karena beliau merupakan perantara antara Allah dengan manusia dalam penyampaian risalah-Nya. Sesuai dengan makna persaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan Rasul-Nya, maka ia wajib mentaati segala yang beliau perintahkan, membenarkan segala yang beliau khabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.
Hal ini sesuai dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” (Al Hasyr : 7)
Ayat ini merupakan kaidah umum yang agung dan jelas tentang wajibnya seluruh kaum Muslimin mengambil sunnah yang telah tetap dan hadits-hadits shahih dalam aqidah, ibadah, muamalah, adab, akhlak, seluruhnya. Hal ini tidak akan diketahui kecuali dengan menuntut ilmu terlebih dahulu.
Selain mengenal Allah dan Rasul-Nya, seorang Muslimah juga wajib mengenal agama Islam sebagai agama yang dianutnya, dengan memperhatikan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahihah, sehingga ia memiliki pendirian kokoh, tidak mudah terombang-ambing. Dan agar ia berada di atas cahaya, bukti, dan kejelasan dari agamanya.
Inilah masalah pertama yang disebutkan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam bukunya Al Ushuluts Tsalatsah, yaitu berilmu sebelum beramal dan berdakwah.
Seorang Muslimah juga wajib membekali dirinya dengan ilmu sebelum memasuki jenjang pernikahan, sehingga ia dapat menunaikan kewajibannya sesuai dengan tuntunan syariat.
Sebagai isteri, seorang Muslimah dituntut agar menjadi isteri yang shalihah, sehingga ia dapat menjadi perhiasan dunia yang paling baik, bukan justru menjadi fitnah atau musuh bagi suaminya.
Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang sifat-sifat wanita shalihah :
“… maka wanita shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka.” (An Nisa’ : 34)
Maksud ayat ini diterangkan oleh Asy Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dan Asy Syaikh Salim Al Hilali rahimahumullah bahwa wanita yang shalihah adalah yang menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mentaati-Nya, mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan menunaikan hak-hak suaminya dengan mentaatinya dan menghormatinya, serta menjaga harta suami, anak-anak mereka, dan kehormatannya tatkala suaminya tidak ada.
Untuk menjadi wanita shalihah yang seperti ini, seorang Muslimah membutuhkan ilmu.
Sebagai seorang ibu, ia mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anaknya agar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Di bawah kepemimpinan suami, isteri adalah penjaga rumah tangga suami dan anak-anaknya, sebagaimana dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau bersabda :
“Laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, wanita adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, maka setiap kalian adalah pemimpin, akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Hasil didikan seorang ibu terhadap anak-anaknya inilah yang termasuk perkara yang akan ditanyakan oleh Allah kelak di hari kiamat. Karena itulah Muslimah harus menuntut ilmu syar’i sebagai bekal mendidik anak-anak sehingga fitrah mereka tetap terjaga dan menjadi penyejuk hati karena keshalihan mereka.
Di tempat lain, bila seorang Muslimah belum menikah, maka sebagai anak ia wajib taat pada orang tuanya selama tidak memerintahkan kepada maksiat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya… .” (Al Ankabut : 8)
Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
“Dosa-dosa besar ialah menyekutukan Allah, durhaka pada orang tua, membunuh jiwa (tanpa hak), dan sumpah palsu.” (HR. Bukhari)
Untuk dapat berbuat baik dan menunaikan hak-hak orang tua dengan benar, seorang Muslimah tidak bisa lepas dari ilmu.
Seluruh kewajiban ini harus dapat ditunaikan dengan dasar ilmu. Karena jika tidak, akan terjadi berbagai kesalahan dan kerusakan. Maka tidak heran, bila para Muslimah yang bodoh terhadap agamanya melakukan berbagai praktek kesyirikan dan kebid’ahan.
Akibat kebodohannya pula, banyak Muslimah yang durhaka pada suami atau orang tuanya. Atau terjadi berbagai kesalahan dalam mendidik anak sehingga muncullah generasi yang berakhlak buruk, bahkan bisa jadi durhaka pada orang tua yang telah merawat dan membesarkannya. Karena kebodohannya pula, banyak Muslimah yang tidak mengetahui bagaimana ia harus menjaga kehormatannya, sehingga ia menjadi fitnah dan terjerumus dalam perzinahan dan berbagai kemaksiatan. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari yang demikian itu.
Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Aku berdiri di muka pintu Syurga, maka aku dapatkan mayoritas penghuninya adalah orang-orang miskin, sedang orang-orang kaya masih tertahan oleh perhitungan kekayaannya. Dan ahli neraka telah diperintahkan masuk neraka. Dan ketika aku berdiri di dekat pintu neraka, maka aku dapatkan mayoritas penghuninya adalah para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hanya dengan menuntut ilmu, seorang Muslimah akan mengetahui jalan yang selamat. Kaum Muslimah masa kini akan menjadi baik bila mereka mau mencontoh para Muslimah generasi terdahulu (generasi salafuna shalih), mereka sangat memperhatikan dan bersemangat dalam menuntut ilmu.
Dalam sebuah hadits dari Abi Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, ia berkata : “Seorang wanita mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata :
‘Wahai Rasulullah! Kaum lelaki telah membawa haditsmu, maka jadikanlah bagi kami satu harimu yang kami datang pada hari tersebut agar engkau mengajarkan pada kami apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.’ Maka beliau bersabda : ‘Berkumpullah pada hari ini dan ini di tempat ini.’ Maka mereka pun berkumpul, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendatangi mereka dan mengajarkan apa yang telah diajarkan Allah kepada beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun sangat bersemangat mengajar para shahabiyah, sampai-sampai beliau menyuruh wanita yang haid, baligh, dan merdeka untuk menyaksikan kumpulan ilmu dan kebaikan. Bahkan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memutuskan udzur wanita yang tidak memiliki hijab, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahihain dari Ummu ‘Athiyah Al Anshariyah radhiallahu ‘anha, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyuruh kami mengeluarkan wanita yang merdeka, yang haid, dan yang dipingit untuk keluar pada hari Iedul Fithri dan Adha. Adapun yang haid memisahkan diri dari tempat shalat, dan mereka pun menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah! Salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.’ Beliau bersabda : ’Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.’ “
Oleh karena itulah, kita dapatkan dalam sejarah Islam, di antara mereka ada yang menjadi ahli fiqih, ahli tafsir, sastrawati, dan ahli dalam seluruh bidang ilmu dan bahasa. Sebagai contoh, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang dididik dalam madrasah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sehingga beliau menjadi wanita yang berilmu dan shalihah.
Imam Az Zuhri rahimahullah berkata : ”Seandainya ilmu ‘Aisyah dikumpulkan dan dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, maka ilmu ‘Aisyah lebih afdhal.”
Bahkan ‘Aisyah merupakan guru dari beberapa shahabat, ia menjadi bahan rujukan mereka dalam masalah hadits, sunnah, dan fiqih. Urwah bin Az Zubair berkata : “Aku tidak melihat orang yang lebih mengetahui ilmu fiqih, pengobatan, dan syi’ir ketimbang ‘Aisyah.”
Para wanita dari kalangan tabi’in juga berdatangan ke rumah ‘Aisyah untuk belajar, di antara muridnya adalah Amrah bintu ‘Abdurrahman bin Sa’ad bin Zurarah. Ibnu Hibban berkata : “Dia adalah orang yang paling mengetahui hadits-haditsnya ‘Aisyah.”
Di antara deretan nama wanita generasi terdahulu yang cemerlang dalam ilmu adalah Hafshah bintu Sirin yang masyhur dengan ibadahnya, kefaqihannya, bacaan Al Qur’annya, dan hadits-haditsnya. Begitu pula Ummu Darda Ash Shuqra Hujaimah, ia seorang yang faqih, ’alimah, banyak meriwayatkan hadits, cerdas, masyhur dengan keilmuan, amalan, dan zuhudnya.
Demikianlah –wahai saudariku Muslimah– mereka adalah contoh terbaik bagi kita dan telah terbukti bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajat orang-orang yang berilmu sebagaimana firman-Nya :
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujadilah : 11)
Semoga Allah memudahkan jalan bagi kita untuk menuntut ilmu dan memberikan ilmu yang bermanfaat. Amin. Wallahu A’lam Bis Shawab.